AL-QURAN (Sejarah Turun Dan Penulisannya)

Al-quran tidak diturunkan sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur, ayat demi ayat dan surat demi surat selama 23 tahun. Diantaranya ada yang diturunkan sebelum hijrah di Makkah dan ada pula yang diturunkan setelah hijrah di Madinah. Disamping itu ada pula yang diturunkan diantara Makkah dan Madinah yaitu di medan perang seperti surat al-Fath, ada yang diturunkan pada waktu malam dan ada pula yang diturunkan pada waktu siang.[1]

Menurut As-Suyuthi perbedaan antara al-makky dan al-Madany mengikuti perbedaan antara dua fase yaitu fase sebelum hijrah dan fase sesudah hijrah. Fase pertama merupakan fase dakwah untuk memperkuat aqidah dan keimanan. Sementara fase kedua adalah merupakan fase pembinaan masyarakat dan Negara Islam yang memerlukan sebuah penetapan undang-undang dan pengorganisasian.[2]

Mengenai persoalan di atas Ibnu Abbas ra, berkata : Apabila pembukaan surat turun di Makkah maka ditulis di Makkah, kemudian Allah menambahkannya sesuai kehendak-Nya. Jika di dalam sebagian surat yang turun di Madinah maka ayat-ayat tersebut diikutkan kepadanya.[3]

Dari dua kategori turunnya Al-quran di atas, lantas bagaimana cara mengetahui mana surat atau ayat yang dinamakan al-Makky atau Makiyah dan mana surat atau ayat yang disebut al-Madany atau Madaniyah. Dalam buku Mukhtashar al-Itqan fi ‘Ulumil Quran, Imam as-Suyuthi menjelaskan ada dua cara untuk mengetahuinya yaitu Sima’i dan Qiyasi. Sima’i artinya melalui riwayat yang sampai kepada kita dan Qiyasi artinya setiap surat yang menyebutkan “wahai manusia” atau “kalla (sekali-kali tidak)”, atau yang diawali dengan huruf-huruf potongan kecuali surat al-Baqarah, Ali Imran dan al-Ra’ad, atau menyebutkan kisah Adam dan Iblis kecuali al-Baqarah adalah Makiyah. Setiap surat yang memuat kisah-kisah para Nabi dan ummat terdahulu adalah Makiyah. Setiap surat yang menyebutkan faridhah dan hukum hadd adalah Madaniyah. Setiap surat yang menyebutkan kaum munafiqin kecuali al-Ankabut adalah Madaniyah.[4]

Mengenai waktu Al-quran diturunkan pertama kali adalah pada suatu malam yang penuh berkah yang dinamakan malam Qadar dalam bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Qadar ayat 1 :

!$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû Ï’s#ø‹s9 ͑ô‰s)ø9$#

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”.[5]

Dan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 185 :

ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tA̓Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur

Artinya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).[6]

Dari dua dalil naqli di atas dapat disimpulkan bahwa Al-quran diturunkan pada malam qadar tanggal 17 Bulan Ramadhan tahun ke 40 dari kelahiran Nabi saw. Menurut Muhammad Ali Asy Syabuny dalam bukunya at-Thibyan fi ‘Ulumil Quran, bahwa Al-quran diturunkan kepada Muhammad ketika ia berada di Gua Hira dengan perantaraan Malaikat Jibril.[7] Selanjutnya, bagaimana Al-quran itu diturunkan ia berpendapat bahwa Al-quran diturunkan dengan dua tahap.

Pertama, pada malam qadar itu Al-quran diturunkan secara sempurna ke Baitul ‘Izzah di langit pertama. Dalilnya adalah  surah Ad-Dukhan ayat 1-3 :

üNm ÇÊÈ   É=»tGÅ6ø9$#ur ÈûüÎ7ßJø9$# ÇËÈ   !$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû 7’s#ø‹s9 >px.t»t6•B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ƒÍ‘É‹ZãB ÇÌÈ

Artinya : “ 1. Haa miim, 2. demi kitab (Al Quran) yang menjelaskan,                       3. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[8] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”.[9]

Berdasarkan ayat di atas jelaslah bahwa Al-quran itu diturunkan secara sempurna pada malam Mubarakah (Qadar) dan hanya pada satu bulan yaitu Ramadhan. Kalaulah Al-quran itu diturunkan kepada Nabi Muhammad secara langsung sekaligus, sementara Nabi Muhammad menerima Wahyu dalam masa 23 tahun lamanya dan bukan pada bulan Ramadhan saja tetapi juga pada bulan yang lainnya, maka dapat dikatakan bahwa Al-quran itu diturunkan secara sempurna pada bulan Ramadhan di Baitul ‘Izzah langit pertama.

Kedua, barulah Al-quran diturunkan dari Baitul ‘Izzah langit pertama ke dalam lubuk hati Nabi Muhammad saw dengan cara berangsur-angsur selama 23 tahun yaitu sejak menerima wahyu pertama sampai Ia wafat. Dalil naqli yang menyatakan Al-quran diturunkan berangsur-angsur adalah firman Allah swt dalam surat al-Isra’ ayat 106 :

$ZR#uäöè%ur çm»oYø%tsù ¼çnr&tø)tGÏ9 ’n?tã Ĩ$¨Z9$# 4’n?tã ;]õ3ãB çm»oYø9¨“tRur WxƒÍ”\s?

Artinya       : “ Dan Al-quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”[10]

Dan firman Allah surat al-Furqan ayat 32 :

tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Ÿwöqs9 tAÌh“çR Ïmø‹n=tã ãb#uäöà)ø9$# \’s#÷Häd Zoy‰Ïnºur 4 y7Ï9ºx‹Ÿ2 |MÎm7s[ãZÏ9 ¾ÏmÎ/ x8yŠ#xsèù ( çm»oYù=¨?u‘ur Wx‹Ï?ös?

Artinya  : “ Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah[11] supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).[12]

Dari itu jelaslah bahwa Al-quran diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara berangsur-angsur berbeda dengan kitab-kitab lain yang diturunkan sekaligus kepada Nabi-Nabi terdahulu.

Mengenai ayat pertama turun, ulama bersepakat sesuai dengan hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya bab permulaan wahyu bahwa ayat pertama turun adalah surah al-‘Alaq ayat 1-5.[13]

 

  1. Penulisan Al-quran

Pertama sekali Al-quran diturunkan seperti yang penulis kemukakan di atas adalah melalui perantara Malaikat Jibril secara berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pada masa itu. Ketika Muhammad menerima wahyu dari Malaikat Jibril ayat demi ayat dan surat demi surat, ia langsung menyampaikannya kepada para sahabatnya untuk dihapalkan dalam dada. Sehingga para sahabatpun dapat menghapalkan ayat demi ayat yang disampaikan Nabi.

Karena keagungan Al-quran, para sahabat Rasul berlomba menghapalkan ayat-ayat Al-quran, bahkan mereka menghiasi malam-malam dengan membaca Al-quran. Banyak para sahabat Rasul yang hapal Al-quran seperti yang diturunkan kepada-Nya, karena memang bangsa Arab memiliki kekuatan hapalan yang cukup tinggi, namun mereka tidak pandai membaca dan menulis.

Lantas bagaimana Al-quran itu ditulis agar pada suatu masa Al-quran itu tidak hilang dari ingatan manusia?. Berikut adalah beberapa teori tentang bagaimana tahapan penulisan Al-quran.

Pertama, Untuk memperkuat ingatan, Rasul memilih beberapa orang sahabatnya untuk menulis setiap ayat Al-quran yang turun dan mengumpulkannya. Diantara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sofyan, Khulafaurrasyidin dan sahabat lainnya.[14] Mereka menulis Al-quran pada pelepah kurma, kepingan batu, kulit/daun kayu, tulang binatang dan sebagainya sesuai dengan perlengakapan yang ada pada saat itu.

Kedua, setelah Nabi Muhammad saw wafat, maka usaha pengumpulan dan penulisan Al-quran dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar. Pada masa Abu Bakar terjadi perang Yamamah yang menimbulkan banyaknya para penghafal Al-quran terbunuh. Sehingga Umar mengusulkan untuk mengumpulkan dan menulis Al-quran karena ia khawatir akan semakin banyak para penghafal Al-quran yang terbunuh dan Al-quran akah hilang. Oleh karena itu Abu Bakar meminta Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan dan menulisnya. sebagaimana tergambar dalam buku Tarjamah Shahih Bukhari berikut :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ أَنَّ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ مَقْتَلَ أَهْلِ الْيَمَامَةِ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عِنْدَهُ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ عُمَرَ أَتَانِي فَقَالَ إِنَّ الْقَتْلَ قَدْ اسْتَحَرَّ يَوْمَ الْيَمَامَةِ بِقُرَّاءِ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَسْتَحِرَّ الْقَتْلُ بِالْقُرَّاءِ بِالْمَوَاطِنِ فَيَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنْ الْقُرْآنِ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَأْمُرَ بِجَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ لِعُمَرَ كَيْفَ تَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمَرُ هَذَا وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِذَلِكَ لوَرَأَيْتُ فِي ذَلِكَ الَّذِي رَأَى عُمَرُ قَالَ زَيْدٌ قَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ لَا نَتَّهِمُكَ وَقَدْ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَتَبَّعْ الْقُرْآنَ فَاجْمَعْهُ فَوَاللَّهِ لَوْ كَلَّفُونِي نَقْلَ جَبَلٍ مِنْ الْجِبَالِ مَا كَانَ أَثْقَلَ عَلَيَّ مِمَّا أَمَرَنِي بِهِ مِنْ جَمْعِ الْقُرْآنِ قُلْتُ كَيْفَ تَفْعَلُونَ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ فَلَمْ يَزَلْ أَبُو بَكْرٍ يُرَاجِعُنِي حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ صَدْرِي لِلَّذِي شَرَحَ لَهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَتَتَبَّعْتُ الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ مِنْ الْعُسُبِ وَاللِّخَافِ وَصُدُورِ الرِّجَالِ حَتَّى وَجَدْتُ آخِرَ سُورَةِ التَّوْبَةِ مَعَ أَبِي خُزَيْمَةَ الْأَنْصَارِيِّ لَمْ أَجِدْهَا مَعَ أَحَدٍ غَيْرِهِ لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَتَّى خَاتِمَةِ بَرَاءَةَ فَكَانَتْ الصُّحُفُ عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ عِنْدَ عُمَرَ حَيَاتَهُ ثُمَّ عِنْدَ حَفْصَةَ بِنْتِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ[15]

Kumpulan tulisan serta lembaran Al-quran itu disimpan oleh Abu Bakar sampai ia wafat. Kemudian diserahkan kepada khalifah Umar sampai ia wafat lalu disimpan dirumah Hafsah binti Umar.

Ketiga, Pada masa khalifah Usman bin Affan terjadi perselisihan cara membaca Al-quran, sehingga menimbulkan perdebatan dan pertikaian. Perbedaan cara membaca Al-quran dikarenakan dialek atau logat yang berbeda antara bacaan Ubay bin Ka’ab dengan Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa Al-Asy’ari. Persoalan ini diselesaikan khalifah Usman bin Affan dengan cara menyalin kembali lembaran dan kumpulan tulisan Al-Qur’an yang ditulis mulai dari masa Nabi sampai masa Abu Bakar dan Umar. Pada masa Usman ini, ia memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said Ibnu Al-Ash dan Abdurrahman Ibnu Hisyam untuk menyalin kembali Al-quran. Setelah penulisan Al-quran rampung dan sempurna menjadi sebuah Mushaf yang baik dan bagus lalu digandakan untuk dikirim keberbagai pelosok untuk dipelajari bacaan dan isi dari Al-quran itu, sehingga perbedaan di atas dapat diatasi dengan bijak.

by. Ansari Siregar

posting, 17 Oktober 2011


[1]Imam As-Suyuthi, Mukhtashar Al-Itqan fi ‘Ulumil Quran li As-Suyuthi, terj. Aunur Rafiq Shalih Tamhid, Apa Itu Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994) h. 49.

[2]Ibid.

[3]Ibid, h. 50.

[4]Ibid, h. 51.

[5]Departemen Agama RI, Al-quran dan Terjemahannya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 1082.

[6]Ibid, h. 45.

[7]Muhammad Aly Ash-Syabuny, At-Thibyan fi ‘Ulumil Quran, terj. Moh. Chodlori Umar dan Moh. Matsna H.S, Pengantar Studi Al-quran (Bandung: Al-Ma’arif, 1987), h. 26

[8]Malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.

[9]Departemen, Al-quran, h. 808.

[10]Ibid, h. 440.

[11]Maksudnya: Al Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian hati Nabi Muhammad s.a.w menjadi kuat dan tetap.

 

[12]Departemen, Al-quran, h.

[13]Syekh Muhammad Ali Ash Shobuni, At-Tibyan fi Ulumil Quran, terj. Muhammad Qodirun Nur, Ikhtisar Ulumul Quran Praktis (Jakarta: Pustaka Amani, 1988), h. 19

[14]Mastna HS, Pengantar, h. 85.

[15]Ahmad Sunarto dkk, Tarjamah Shahih Bukhari ( Semarang: Asy Syifa’, 1993, Jilid VI), h. 589-591

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: